Category Archives: Uncategorized

Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan #AskBNI


mmm..dah lama banget enggak nulis di blog ini,

kenapa ya?

saya harus “Mau Bertanya (agar) Nggak Sesat di Jalan” kehidupan blogger ini..hehe ^^

Dan setelah menemukan jawabannya, akhirnya saya melanjutkan ketikan tulisan  ini, tik tak tik tak tik tak

Baik..

Sesi kali ini kita mulai dengan cerita tentang pengalaman saya pertama kali datang ke Bank.

Jujur, saya termasuk orang yang cukup pemalu untuk bertanya langsung ke orang atau lebih tepatnya saya selalu menunda bertanya dengan mencari tau sendiri dulu.

Tapi perasaan itu tidak terjadi pada diri saya ketika memasuki sebuah Bank, kenapa?  ayo, kamu harus “Mau Bertanya (agar) Nggak Sesat di Jalan” dunia maya ini..hehe maksa ya..

Yup.. jawabannya karena saat masuk Bank, saya langsung disambut hangat oleh seorang Bapak yang memakai pakaian seragam keamanan, bahkan sampai dibukai pintu segala…waduh kayak tamu terhormat aja…

Dan point terpentingnya adalah Bapak penjaga keamananan langsung ngomong : “selamat pagi, ada yang bisa di bantu?”

Aksi security ini nih yang menghilangkan rasa malu bertanya, gugup di sekitar orang-orang yang tak dikenal, dan takut salah tingkah di keramaian ruangan.

Sambil menunggu panggilan antrian, saya sesekali melirik ke Bapak security tadi yang tak hentinya mengamati dengan seksama semua aktifitas pengunjung Bank, seolah mencari-cari adakah pengunjung yang butuh bantuan.

Saya kagum sama pelayanan bapak itu dan tentunya secara umum pelayanan Bank tersebut juga.

Dan sekarang dunia pun semakin canggih, kunjungan ke Bank tidak serame dulu, sekarang orang-orang lebih banyak melakukan transaksi lewat atm dan e-banking.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah …

Saya harus mau bertanya nih, iya karena “Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan” ^_^

Pertanyaan saya adalah apakah Bank tersebut tetap bisa melakukan pelayanan yang hangat dan informatif selayaknya pada dunia nyata seperti Bapak security tadi?

Karena sarana bertanya inilah salah satu hal urgent yang dibutuhkan costumer Bank.

Dan ternyata jawabannya : YA, Bank tersebut tetap berusaha seoptimal mungkin melayani costumernya di dunia maya dengan menyediakan ini :

1914620_10153184010757102_3476310828338517082_n

Apa ini? nanya lagi…bagusss

#AskBNI adalah hashtag dari akun twitter @BNI46

Caranya sangat mudah, cukup memiliki akun twitter lalu follow aja twitter @BNI46. Di situ akan dijelaskan penggunaan lebih detailnya. Kalo bingung, ingat jangan lupa langsung bertanya ya..tp saya yakin fitur #AskBNI ini sangat mudah digunakan.

CXbbT7uWMAAAObo

Dengan menggunakan hashtag #AskBNI, kita dapat memperoleh segala informasi yang dibutuhkan dengan cepat dan update, mulai dari info promo sampai quotes. Selamat mencoba…

Kalau di kantor Banknya ada bapak security, kalau di twitter @BNI46  ada #AskBNI. Selamat memanfaatkan sarana ini.

Ingat, bila masih bingung atau ragu, jangan sungkan untuk bertanya, karena  “Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan”…^_^

Sekian, semoga bermanfaat.

Iklan

Abdullah Al-Anshari


Abdullah Al-Anshari

Marilah kita membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sebelum melanjutkan menulis ataupun membaca (untuk para pembaca) tulisan ini,

Ada yang ingat kisah sahabat yang satu ini??

Ya, sahabat ini adalah seorang mujahid yang memiliki kisah yang sangat menarik pada perang uhud. Dimana Rasulullah bercerita kepada anak Abdullah Al-Anshari, yaitu Jabir, mengenai kisah percakapan ayahnya dengan Allah.

Rasulullah SAW bersabda kepada Jabir : “Wahai Jabir, tahukah kamu bagaimana Allah memperlakukan ayahmu?”

ini sebuah pertanyaan yang membuat hati penasaran yang diselimuti dengan perasaan gembira, sekaligus sebuah pernyataan yang menyiratkan kabar gembira..

selanjutnya Jabir RA menjawab : “Demi Allah, saya tidak tahu, wahai Rasulullah.”

Maka Rasulullah SAW bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku di dalam genggaman-Nya, sungguh Allah telah mengajaknya berbicara tanpa ada penerjemah.”

Allah SWT berfirman, “wahai hamba-Ku, berharaplah kamu.”

Maka dia (Abdullah bin Amr Al-Anshari) berkata, “Wahai Rabbku, saya berharap agar Engkau mengembalikanku ke dunia lalu saya terbunuh lagi untuk kedua kalinya.”

Allah SWT berfirman, “sesungguhnya Aku telah membuat ketentuan kepada diri-Ku bahwa mereka (orang-orang yang sudah meninggal dunia) tidak akan dikembalikan kepadanya (dunia), maka berharaplah (yang lain).”

Dia berkata, “Saya mengharapkan supaya Engkau ridho terhadapku, karena Aku telah ridho terhadap ketentuan-Mu”(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Sungguh luar biasa, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Percakapan yang luar biasa antara seorang hamba dengan kejujuran perasaan cintanya kepada Sang Khalik. Percakapan yang sangat langka sekali. Sungguh Allah SWT telah memillih Sahabat Abdullah bin Amr Al-Anshari, sebagai contoh, sebagai pelajaran, sebagai penyemangat, sebagai penggelora hati, dalah suatu kisah seorang mujahid yang begitu jujur menyatakan kecintaan dan keinganannya akan kesyahidan yang hanya dinanti-nanti oleh orang-orang yang telah dipilih oleh Allah SWT.

Percakapan ini menyiratkan kepada kita tentang betapa nikmatnya syahid tersebut, tentang begitu di indahnya berjihad di jalan Allah, tentang kerinduan akan syahid, sehingga membuat orang yang telah merasakan masih ingin merasakannya lagi, masih ingin menikmati dan dan mengarungi perjuangannya yang begitu nikmat dan indah. Allahu Akbar.

Dan saat yang dimintakan itu tidak penuhi, maka permintaan yang kedua, adalah suatu harapan yang mencukupi semuanya, yaitu ridho Allah SWT, karena dengan ridho Allah SWT, kita bisa memasuki surga-Nya dan bertemu dengan-Nya. Dan bahwa segala sesuatu yang terjadi itu semua hanya karena ridho Allah SWT.

Ya Allah jadikanllah hamba dan orang yang membaca tulisan ini termasuk hamba-Mu yang Engkau karunia hidup mulia dan mati syahid, ya Allah karuniakanlah kami khusnul khatimah, aamin ya Allah.

Oia, mungkin menjadi pertanyaan mengapa Allah SWT tiba-tiba memulai percakapannya dengan pertanyaan apa yang diharapakan. Hal ini berawal dari do’a yang yang dipanjatkan oleh Abdullah Al-Anshari, saat Beliau ke medan perang uhud, dimana beliau telah memakai kain kafan seraya menghadap ke langit dan berdo’a :

“Ya Allah, ambillah darahku pada hari ini, sehingga Engkau ridho kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku sangat ingin berjumpa dengan-Mu, maka janganlah Engkau tolak perjumpaanku dengan-Mu pada hari ini.”

Allah SWT Maha Mengetahui kejujuran dan keikhlasan hamba-Nya, maka pagi itu juga Allah mengabulkan kesyahidannya.

Subhanallah, Allahu Akbar. Sahabat, apakah kita pernah berdo’a seperti do’anya Abdullah Al-Anshari? Atau yang mirip-mirip dengan do’a tersebut? Sungguh karunia yang luar biasa, tidak ada kata terlambat untuk berdo’a.

Sahabat, mari kita perkuat keimanan kita, ketakwaan kita, dengan amal harian kita, dengan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, dengan beribadah sekhusyu’-khusu’nya, dan tentu saja berdo’a seyakin-yakinnya. Karena Allah SWT telah bersabda :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang bedo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(Al-Baqarah:186).

Wallahu’alam.


Sabar dan Syukur


Bismillahirrahmanirrahim,

sungguh Allah benar-benar Zat yang Maha Penyanyang dan Pengasih, Ya Allah, Ya Rabb.

Sabar dan syukur adalah 2 sayap yang harus selalu berada di punggung tiap pribadi muslim, untuk bisa terbang ke surga-Nya,

Hampir semua amalan, pasti ada hitung-hitungan balasan pahalanya, misal kalau kita shalat dibalas dengan sekian derajat, kalau sedekah dikali dengan sekian balasan, kalau shaum pahalanya sama dengan sekian, dan seterusnya, tapi lain dengan suatu amaalan hati ini, yaitu sabar.

Sabar balasannya tak terhingga, luar biasa, karena sesuai dengan hakikatnya sendiri, bahwa sabar pun tak ada batasnya, jadi sebuah kekeliruan bila kita mengatakan kalau batas kesabaran kita sudah habis, itu artinya ada yang harus kita bersihkan dari hati kita, dengan banyak beristigfar, banyak mengingat Allah, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya..

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.(Al-‘Imran:142)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(Al-Baqarah:155)

Dari ayat di atas sangat jelas Allah benar ingin melihat orang-orang sabar diantara manusia..

Begitupun dengan beryukur, tak sedikit dari manusia yang pandai mensyukuri tiap karunia yang berikan, tiap kejadian yang ditakdirkan, tiap peristiwa yang dialami, dan seterusnya,

Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.(Al-Mulk:23)

Ya Allah jadikanlah kami hamba yang senantiasa bersabar dan bersyukur atas segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami, baik berupa nikmat maupun cobaan,

Wallahu’alam


sahabatku karena Allah


Bismillahirrahmanirrahim.

kemarin, tepat di akhir bulan mei, Allah betul-betul menyadarkan diri ini untuk bersyukur, bersyukur, dan bersyukur, karena memiliki sahabat yang luar biasa baik..
dipagi hari yang biasanya dia gunakan untuk berinteraksi dengan al-qur’an menghafal dan muraja’ah, kini harus bergegas ke sabuga untuk menemaniku membagikan selebaran dengan upah 100rb tiap orang. dalam rangka membantu memenuhi pembayaran kostan lusa. sungguh hari itu aku merasakan ketulusan seorang teman yang luar biasa..Alhamdulillah..
mm..sebenarnya ceritanya masih panjang, tapi nanti insyaAllah akan di sambung…di tengah-tengah ke hectic-kan nge-lab.


Madrasah Cinta Ibu


Bismillahrirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum wr.wb.

semoga sahabat seperjuangan sekalian tetap sehat selalu, gimana kabar keluarga? ibu? bapak? saudara? semoga juga tetap sehat, sehat fisik, sehat akal, dan sehat iman, aamiin.

Berikut ada tulisan yang mungkin sahabat sudah pernah membacanya, namun di baca lagi gpa2, semoga bisa menambah keimanan kita, aamiin.

Madrasah Cinta Ibu

Apa yang paling dinanti oleh seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, seberat apapun langkah yang mesti dikayuh, seberapa lamapun waktu yang akan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan;”positif”.

Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih, dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya, “Menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana?” Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Detik ini, sebuah episode cinta baru saja berputar.

Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, taman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak. Si kecil baru saja berucap,”Ma…”segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun di saat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak berhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.

“Demi anak”,”Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, stiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meskipun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan;demi anak.

Di saat pusing pikirannya mengatur keunangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak,… nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apapun akan dilakukannya agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar. Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi baby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang mengikik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makanan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukannya, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan meminta menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia pun terus mendongeng.

Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta-merta kalimat,”Sudah makan belum?”tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.

Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, Siapa yang paling menangis?Siapa yang paling lebih dulu menitikkan air mata?Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia di balut dengan gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tidak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang terlambat, yang dalam harapannya ia berlirih, “Masihkah kau anakku?”

Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya,”Bila ibu maninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian. “Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. “agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shaleh sejak kecil.”ujarnya.

Wahai ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru: pecinta. Sekolah yang semua muridnya diberi satu nama: yang dicinta.(dr sebuah buletin)


Hello world!


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!