Madrasah Cinta Ibu


Bismillahrirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum wr.wb.

semoga sahabat seperjuangan sekalian tetap sehat selalu, gimana kabar keluarga? ibu? bapak? saudara? semoga juga tetap sehat, sehat fisik, sehat akal, dan sehat iman, aamiin.

Berikut ada tulisan yang mungkin sahabat sudah pernah membacanya, namun di baca lagi gpa2, semoga bisa menambah keimanan kita, aamiin.

Madrasah Cinta Ibu

Apa yang paling dinanti oleh seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, seberat apapun langkah yang mesti dikayuh, seberapa lamapun waktu yang akan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan;”positif”.

Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih, dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya, “Menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana?” Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Detik ini, sebuah episode cinta baru saja berputar.

Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, taman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak. Si kecil baru saja berucap,”Ma…”segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun di saat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak berhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.

“Demi anak”,”Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, stiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meskipun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan;demi anak.

Di saat pusing pikirannya mengatur keunangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak,… nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apapun akan dilakukannya agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar. Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi baby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang mengikik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makanan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukannya, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan meminta menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia pun terus mendongeng.

Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta-merta kalimat,”Sudah makan belum?”tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.

Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, Siapa yang paling menangis?Siapa yang paling lebih dulu menitikkan air mata?Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia di balut dengan gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tidak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang terlambat, yang dalam harapannya ia berlirih, “Masihkah kau anakku?”

Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya,”Bila ibu maninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian. “Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. “agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shaleh sejak kecil.”ujarnya.

Wahai ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru: pecinta. Sekolah yang semua muridnya diberi satu nama: yang dicinta.(dr sebuah buletin)

Iklan

Drama Hijrah


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum wr.wb

sahabt seperjuangan yang insyaAllah mencintai Allah dan dicintai Allah, aamiin. ini ada sepenggal cerita yang indah (sirah Rasulullah SAW) semoga menjadi inspirasi dan motivasi.

Drama Hijrah

Haekal melukiskan kisah ini sebagai “kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman”.

Yatsrib atau Madinah sudah pasti menjadi masa depan Muhammad dan pengikutnya. Puluhan muslimin telah menyelinap pergi ke sana. Kaum Qurais tak terlalu peduli. Perhatian mereka pada Muhammad yang masih di Mekah yang tak akan mereka biarkan lolos. Padahal Muhammad telah siap untuk pergi. Abu Bakar telah menyiapkan dua unta baginya dan bagi Muhammad. Unta itu dipelihara Abdullah bin Uraiqiz.

Sampai pada harinya, perintah Allah untuk hijrah pun turun. Muhammad memberi tahu Abu Bakar. Para pemuda Qurais juga semakin ketat memata-matai rumah Muhammad. Mereka sesekali mengintip ke dalam rumah, melihat Muhammad berbaring di tempat tidurnya. Namun Muhammad meminta Ali mengenakan mantel hijaunya dari Hadramaut serta tidur di dipannya. Kaum Qurais tenang. Mereka pikir Muhammad masih tidur. Ketika esok harinya mendobrak pintu rumah Rasul, mereka hanya mendapati Ali yang mengaku tak tahu menahu tentang keberadaan Muhammad.

Malam itu, Muhammad telah menyelinap dari jalan belakang. Bersama Abu Bakar, ia berjalan mengendap dalam gelap, menuju sebuah gua di bukit Tsur. Sebuah pilihan cerdik. Kaum Qurais tentu menduga Muhammad menuju Yatsrib di utara Mekah. Muhammad malah melangkah ke selatan. Kejadian ini juga memperlihatkan bahwa Muhammad tetap menggunakan nalar yang wajar sebagai manusia. Jika mau, ia dapat meminta perlindungan Allah berwujud kesaktian seperti yang dikejar-kejar banyak manusia sekarang. Tapi tidak, Muhammad menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama untuk kepentingan semacam itu.

Muhammad dan Abu Bakar hanya menjalankan siasat biasa. Dalam persembunyiannya, mereka tetap memasang telinga melalui Abdullah, anak Abu Bakar, yang tetap tinggal di Mekah. Setiap malam, Abdullah menemui mereka di gua melaporkan perkembangan suasana serta mengirim makanan yang disiapkan Aisyah dan saudaranya, Asma. Setiap pagi, pembantu Abu Bakar -Amir bin Fuhaira-menggembala kambing menghapus jejak itu.

Tiga malam mereka bersembunyi di gua itu. Satu riwayat menyebut sejumlah pemuda Qurais telah mencapai bibir gua. Abu Bakar gemetar meringkuk di sisi Muhammad. Saat itu, Muhammad berbisik. “La tahzan, innallaaha ma’ana (Jangan sedih, Allah bersama kita) “. Rasul juga menghibur dengan kata-kata, “Abu Bakar, kalau kau menduga kita hanya berdua, Allah-lah yang ketiga.” Orang-orang Qurais itu lalu pergi. Konon mereka melihat sarang laba-laba serta burung merpati mengerami telur di mulut gua. Tak mungkin Muhammad bersembunyi di situ.

Setelah aman, Abdullah bin Uraiqiz membawa keluar mereka. Tiga unta beriringan ke Barat, berbekal makanan yang diikat dengan sobekan sabuk Asma. Abu Bakar disebut membawa seluruh uang simpanannya sebesar 5 ribu dirham. Mereka berjalan berputar menuju arah Tihama, dekat Laut Merah, melalui jalur yang paling jarang dilalui manusia. Baru kemudian mereka berbelok ke utara, ke Yatsrib, menapaki terik gurun. Siang-malam mereka terus berjalan.

Kaum Qurais membuat sayembara dengan hadiah 100 unta bagi yang dapat menangkap Muhammad. Suraqa bin Malik tergiur iming-iming itu. Ketika mendengar info ada tiga orang berunta beriringan, ia mengelabui kawan-kawannya. “O.. itu adalah si anu,” begitu kira-kira ucapan Suraqa. Namun ia kemudian memacu kudanya sendirian mengejar Muhammad. Sedemikian menggebu Suraqa, sehingga kudanya tersungkur. Sekali lagi, ia tersungkur setelah dekat dengan Muhammad. Suraqa lalu menyerah karena menganggap dirinya tengah sial.

Dua pekan kemudian, Muhammad tiba di Quba -desa perkebunan kurma di luar kota Yatsrib. Ia tinggal di sana selama empat hari dan membangun masjid sederhana. Di sana pula Muhammad bertemu kembali dengan Ali yang berjalan kaki ke Yatsrib. Mereka kemudian berjalan bersama menuju kota, dan disambut sangat meriah oleh warga Yatsrib dengan bacaan salawat. Orang-orang Arab -baik yang Islam maupun penyembah berhala-serta orang-orang Yahudi tumpah ruah untuk melihat sosok Muhammad yang banyak diperbincangkan.

Orang-orang berebut menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal Rasul. Tapi Muhammad menyebut bahwa ia akan tinggal di mana untanya berhenti sendiri. Sampai ke sebuah tempat penjemuran korma, unta itu berlutut. Muhammad menanyatakn tempat itu milik siapa. Ma’adh bin Afra menjawab, rumah itu milik Sahal dan Suhail -dua orang yatim dari Banu Najjar.

Setelah dibeli, rumah itu pun dibangun menjadi masjid. Hanya sebagian dari ruangan masjid itu yang beratap. Di sanalah orang-orang miskin –dari berbagai tempat yang datang menemui Muhammad untuk memeluk Islam– kemudian ditampung. Muhammad membangun rumah kecil bagi keluarganya di sisi masjid itu. Semasa pembangunan rumah itu, Rasul tinggal di rumah keluarga Abu Ayyub Khalid bin Zaid. Sekarang masjid yang dibangun Rasulullah itu menjadi masjid Nabawi yang teduh di Madinah. Sedangkan rumah tinggalnya menjadi tempat makam Rasul yang kini berada di dalam masjid Nabawi.

Pada usia 53 tahun -setelah 13 tahun masa kerasulannya serta membangun pondasi keislaman-Muhammad membuat langkah besar itu: hijrah. Langkah berbahaya namun mengantarkannya menjadi pemimpin utuh. Pemimpin keagamaan, kemasyarakatan juga politik. Peristiwa pada tahun 623 Masehi itu sekaligus mengajarkan keharusan umat Islam untuk berani menempuh langkah besar untuk mencari lingkungan atau lahan baru yang memungkinkan benih kebenaran dan kebajikan tumbuh lebih subur.

(kisah ini, adalah kisah yang diamanahkan kepadaku untuk dibaca lalu direkam, dan rekamannya diberikan oleh salah satu yayasan tunanetra yang ada di Bandung, bagi anggota asrama putri yang mau merekam suaranya, diberikan 1 judul kisah dari sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. semoga CD rekaman tersebut dapat dimanfaatkan oleh mereka, aamiin)


semangat berukhuwah


bismilllahirrahmanirrahim

sedikit dari curahan hati untuk siapapun yang membaca tulisan ini dan ingin menjadi sahabat seperjuangan yang istiqamah, isnyaAllah.

assalamu ‘alaikum wr.wb sahabat seperjuangan…

hari ini, perasaan ini dipenuhi dengan semangat berukhuwah, kangen dengan sahabat2 seperjuangan saat TPB, sahabat seperjuangan di mata’, terinagat-ingat kenang-kenangan saat DP2Q 1 dan 2, dauroh pengurus, sahabat seperjuang gamais, GSC dan pelantikan, kepanitiaan pertama di muktamar gamais, lanjut ESQ, KIT, dan GP, sahabat seperjuangan di prodi muslimah chem, rihlah kamamuki, silikat tiap jum’at., dll dan begitu banyak kumpul2 lainnya yang semunya itu telah menjadi suatu momen kita menciptakan dan merasakan nikmatnya ukhuwah itu.

sangat bersyukur bisa berkenalan dengan kalian, bisa berbincang lama, melakukan perjalan bersama, makan bersama, tidur di atap yang sama, bisa mengenal lebih dalam, berbagi keunikan yang luar biasa manfaatnya.

sangat senang bila diberi kesempatan memperbanayak sahabat lagi, berjuang lebih keras lagi dan istiqamah.

serasa ingin reuni lagi, berkumpul mengenang masa2 itu dan berbagai mimpi untuk masa depan yang lebih baik untuk mewujudkan cita-cita bersama, terus berjuang di jalan dakwah ini, menggapai ridho Allah, Walaupun butuh perjuangan yang luar biasa, hati ini sangat berharap dan terus memohon kepada Allah agar kita dipertemukan di surga-Nya kelak, aamiin ya Allah.

sahabat seperjuangan yang begitu merindukan sahabat seperjuangannya karena Allah, insyaAllah.

wallahu ‘alam


kenapa yah?


Bismillahirrahmanirrahim

kenapa yah?, koq judulnya kenapa yah?..mmm..kadang-kadang atau bahkan sangat sering kita mengucapkannya tentunya dengan nada penasaran dan mencoba berpikir untuk menjawab sendiri.

Kali ini saya akan membahas, satu dari sekian banyak pertanyaan kenapa yah?

kenapa yah? kadang kita, teman kita, saudara kita, keluarga kita, ataupun orang lain yang lainnya itu telah tau bahwa itu benar tapi tidak dilakukan atau bahwa itu salah tapi masih tetap dilakukan……

terlalu general yah? kita coba persempit lagi, yang lebih sederhana, atau kita coba berikan contoh, mm..apa yah? tentang muslimah dulu kali yah, tentang berjilbab, wah ini tema sangat sering di bahas di kalangan muslimah, namun masih banyak saudari-saudari kita yang sebenarnya sudah paham, setengah paham, seperempat paham, tau sedikit, dan lain-lain namun mau mengaplikasikan, apakah karena ragu-ragu? malu? takut? belum dapat restu ortu (padahal kalo dilarang ortu hal kebaikan, kita tidak mengikiuti), dll? Hal ini kita pahami bahwa mereka belum tergerak hatinya atau bahasa lainnya belum mendapat hidayah dari Allah untuk memakai jilbab.

Banyak orang kita temui telah paham sesuatu bahkan sangat paham, kalau kita tes tingkat keilmuannya, kita uji kepahamannya, wah luar biasa, pola pikirnya sesuai dengan al-qur’an dan hadist, namun saat kita lihat kesehariaannya, belum ada pengaplikasian dari ilmu dan kepahamannnya tersebut, atau mungkin masih sedikit. timbullah pertanyaan kenapa?

Mungkin jawabannya bisa beragam, mungkin karena ini, mungkin karena itu, mungkin karena ini dan itu…

Namun disini saya berusaha memaparkan salah satu sudut pandang saya setelah berpikir sejenak, kita mencoba melihat salah satu sudut pandang, yaitu dari segi pribadi orang itu sendiri dan Allah sebagai pemiliknya, sekali lagi orang itu bisa saja kita sendiri bisa saja orang lain.

Kalau kita cermati, bahwa atas kehendak Allah seseorang bisa saja sangat pintar, genius, kemampuan kognitifnya luar biasa, namun itu semua adalah makanan otak, sedangkan perlu adanya dorongan tersendiri yang lebih kuat yang begitu besar pada diri kita, yang disebut dengan hidayah atau petunjuk, dan itu tidak semua orang memilikinya, karena ada kehendak Allah tersendiri terhadap makhluk-Nya dari sekian banyak makhluk-NYa. Sesuai firman-Nya:

مَن يَهْدِ اللّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَن يُضْلِلْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah , maka merekalah orang-orang yang merugi.”(Al-‘Araaf)

Maka beruntunglah kita yang mendapat petunjuk tersebut, petunjuk atau hidayah itu adalah makanan atau bagian hati. maka jelaslah bahwa penyakit hati seperti sombong, angkuh dan iri hati, berburuk sangka, dll itu akan menghalangi datangnya hidayah. Dan satu hal yang juga kita harus ingat adalah hidayah itu tidak datang begitu saja, namun harus kita cari, butuh perjuangang dan pengorbanan.

sahabat seperjuangan, marilah kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan hidayah tersebut untuk terus membersihkan hati ini, untuk terus berjuang di jalan dakwah ini, untuk terus menolong agama Allah, semoga kita bisa istiqamah, aamiin ya Allah.

wallahu ‘alam


suara menghilang


Bismillahirrahmanirrahim

Seminggu ini, tenggorokan terasa sakit, ya seperti gejala flu biasa, maka minum banyak ada solusi yang klise dan efektif, namun entah apa yang terjadi, semakin hari semakin parah bahkan disertai batuk, eh, lama-lama berefek pada suara yang serak-serak hingga pagi hari ini suara hilang, hanya bisa berbicara tanpa suara, namun setelah di latih dan dilatih mulai keluar namun sangat terbatas.

apakah makna di balik dari semua ini?
mungkin ini adalah ujian sekaligus teguran dari Allah.
mungkin saja selama ini saya sadar atau tak sadar banyak mengeluarkan kata-kata yang sia-sia, membicarakan orang, terlalu banyak bercanda, berkata kasar dan lain-lain yang tidak diridhoi oleh Allah, mungkin saja saya sangat jarang berdzikir, beristighfar.

Saya sangat bersyukur diberikan sakit ini, walaupun agak sedikit sulit berkomunikasi dengan orang lain.
dimana hari banyak bertemu dengan teman2 seperjuangan lama, saling menanyakan kabar dan keadaan. semoga sakit ini menjadi penggugur dosa-dosa, aamiin, laba’sa thouhurun, insyaAllah.

setidaknya bisa merasakan perasaan saudari kita yang diberi kelebihan oleh Allah tidak bisa berbicara, kelebihan, karena dosa-dosa yang di lakukan oleh mulutnya lebih sedikit. subhanallah.

wallahu ‘alam


Hikmah..hikmah..hikmah


Bismillahirrahmanirrahim

Begitu banyak peristiwa yang kita lalui, begitu banyak kejadian yang kita lihat, begitu banyak cerita yang kita dengar. Tentunya ada begitu banyak juga hikmah yang dapat kita ambil dan kita mainfaatkan dalam menjalani hari-hari berikutnya yang kita tidak tau kapan akhirnya.

Hikmah tersebut kadang kita dapatkan saat kejadian itu terjadi, sesaat setelah terjadi, bahkan jauh setelah kejadian itu terjadi. Semoga Allah selalu membukakan pintu hati dan pikiran kita untuk selalu memperoleh hikmah atas setiap peristiwa yang dialami oleh indra kita. Namun apalah artinya sebuah hikmah kalau kita tidak memanfaatkannya untuk membantu dalam penyiapan bekal yang lebih baik dan lebih banyak untuk kehidupan akhirat kelak.

Dan hikmah yang paling jelas adalah Al-qur’an yang diwahyukan oleh Allah SWT dan As-Sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”(Al-Baqarah:269)

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Dan sesungguhnya Al Qur’an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.”(Az-Zukhruf:4)

Sahabat, marilah kita selamatkan diri dari godaan dunia yang sekarang begitu dahsyatnya, dari rayuan syetan yang takkan pernah berhenti mengajak ke sesatan.

Sahabat, marilah kita beristiqamah berjuang di jalan Allah, mempelajari Al-qur’an dan As-Sunnah, mengamalkan dan mengajarkannya semata-mata mencari ridha Allah untuk dapat bertemu dengan-Nya dan berkumpul bersama Rasulullah dan para sahabta beserta orang-orang yang kita cintai lainnya di surga-Nya kelak, aamiin ya Allah.

٧٢. وَعَدَ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mu’min, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar. itu adalah keberuntungan yang besar.”(At-Taubah:72)

wallahu ‘alam

sabahabat seperjuangan yang berjuang di jalan Allah, insyaAllah, semoga istiqamah, aamiin.


Sahabat Istimewa


Bismillahirrahmanirrahim,

Malam ini, begitu banyak sms tausyiah berdatangan ke inbox Hp-ku. Salah satu sms dari teman sejurusan berisi tentang kalimat yang dipernah dituliskan oleh Imam AL-Ghazali. Maaf bila tidak begitu sesuai dengan redaksi dan dengan beberapa tambahan.

Ukhuwah itu tidak terletak pada pertemuan,

Bukan pula pada manisnya ucapan di bibir,

Namun tertelak pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam do’anya.

Sahabat, Seseorang yang istimewa bukanlah orang yang sering kita lihat, bukanlah seseorang yang selalu ada di sisi kita, namun seseorang yang selalu setia di hati dan mengingat kita dalam setiap bisikan do’anya,

Sahabat, izinkanlah aku menjadi sahabat istimewa kalian, sahabat seperjuangan yang akan tetap setia dan istiqamah di Jalan-Nya, insyaAllah, aamiin